Wednesday, April 4, 2018

Cara Menentukan Awal Ramadhan Seperti Yang Dicontohkan Rasulullah


Para Ulama sebenarnya telah membuat mekanisme penentuan awal Ramadhan sesuai dengan ketentuan yang dicontohkan oleh Rasulullah sehingga perbedaan penentuan awal Ramadhan mestinya tidak perlu terjadi. Hadits berikut ini akan memberikan gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana menentukan awal Ramadhan. Berikut ini cara penentuan awal Ramadlan yang dicontohkan Rasulullah:

1. Menghitung Bilangan Hari di Bulan Sya’ban

Islam adalah agama yang mudah.  Dalam penentuan awal Ramadlan, hendaknya umat Islam membiasakan diri untuk menghitung bilangan hari pada bulan Sya’ban.  Dalam kalender Qamariyyah (kalender Islam), jumlah hari dalam satu bulan adalah 29 hari atau 30 hari.  Kita diwajibkan berpuasa jika telah melihat bulan (hilal bulan Ramadlan). Dan jika tertutup oleh awan (bulan tidak terlihat), maka bulan Sya’ban kita genapkan menjadi 30 hari.  Hal itu sangat sesuai dengan amalan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya sebagaimana telah shahih dalam riwayat.

Dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda:

الشهر تسع وعشرون ليلة فلا تصوموا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

”Bulan itu ada 29 malam (hari). Janganlh kalian mulai berpuasa hingga melihat bulan. Apabila ia tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah hitungan hari (dalam satu bulan) menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1907).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah jika kalian telah melihat bulan, dan berbukalah jika kalian melihatnya pula.  Dan apabila bulan tertutup (awan) dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)[5].

2. Jika Ada Orang (Saksi) yang Telah Melihat Bulan, Maka Berpuasalah atau Berbukalah

Melihat bulan (hilal) awal Ramadlan ditentukan dengan kesaksian dua orang saksi yang adil.  Hal ini didasarkan oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وانسكوا لها فإن غم عليكم فأكملوا ثلاثين فإن شهد شاهدان فصوموا وأفطروا

“Berpuasalah jika kalian melihat bulan dan berbukalah jika kalian melihatnya pula, serta menyembelihlah (pada bulan Dzulhijjah) karena melihatnya.  Jika bulan itu tertutup dari pandangan kalian, maka sempurnakanlah (bulan Sya’ban) menjadi 30 hari.  Dan jika ada dua orang yang memberi kesaksian melihat bulan, maka berpuasalah dan berbukalah kalian” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2116, Ahmad 4/321, dan Ad-Daruquthni 3/120 no. 2193; lafadh ini milik An-Nasa’i. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 909).

3. Barangsiapa yang Berpuasa di Hari Syakk (Meragukan), Maka Dia Telah Bermaksiat kepada Abul-Qasim (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

Dengan demikian, tidak sepatutnya bagi seorang muslim untuk mendahului untuk berpuasa sebelum bulan Ramadlan, sehari atau dua hari – dengan alasan untuk berhati-hati.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

لا يتقدمن أحدكم رمضان بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومه فليصم ذلك اليوم

“Janganlah seseorang di antara kalian mendahului puasa Ramadlan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya; kecuali bagi yang biasa berpuasa, maka tidaklah mengapa ia berpuasa pada hari itu” (HR. Al-Bukhari no. 1815 dan Muslim no. 1082; lafadh ini adalah lafadh Al-Bukhari).

‘Ammar berkata :
من صام اليوم الذي يشك فيه الناس فقد عصى أبا القاسم صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan (syak), berarti dia telah mendurhakai Abul-Qasim (Rasulullah) shallallaahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Abu Dawud no. 2334, At-Tirmidzi no. 686 – dan ia berkata : hasan shahih, Ibnu Majah no. 1645, An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2190, dan yang lainnya; ini adalah lafadh At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/52).


Imam An-Nawawi berkata :

فِيهِ التَّصْرِيح بِالنَّهْيِ عَنْ اِسْتِقْبَال رَمَضَان بِصَوْمِ يَوْم وَيَوْمَيْنِ ، لِمَنْ لَمْ يُصَادِف عَادَة لَهُ أَوْ يَصِلهُ بِمَا قَبْله ، فَإِنْ لَمْ يَصِلهُ وَلَا صَادَفَ عَادَة فَهُوَ حَرَام ، هَذَا هُوَ الصَّحِيح فِي مَذْهَبنَا

“Hadits ini secara tegas melarang menyambut bulan Ramadlan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya bagi orang-orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa atau tidak menyambungnya dengan puasa sebelumnya. Jika ia tidak menyambungnya dengan puasa sebelumnya atau ia tidak memiliki kebiasaan berpuasa, maka itu diharamkan dan inilah pendapat yang benar dalam madzhab kami” (Syarh Shahih Muslim lin-Nawawi hal. 789).

4. Doa Ketika Melihat Hilal (Bulan Baru Hijriyah) Ramadlan

Apabila hilal telah terlihat yang menandakan tanda mulainya Bulan Ramadlan (atau bulan-bulan yang lainnya), maka disunnahkan membaca doa :

اَللهُ أَكْـبَرُ، اَللّهُمَّ أَهِلَّـهُ عَلَيْـنَا بِاْلأَمْـنِ وَاْلإِيْمـَانِ، وَالسَّلامَـةِ وَاْلإِسْلامِ، وَالتَّـوْفِيْـقِ لِمَا تُحِـبُّ وَتَـرْضَـى، رَبُّنـَا وَرَبُّكَ اللهُ

“Allah Maha Besar. Ya Allah, tampakkan bulan satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufiq untuk menjalankan apa yang Engkau senang dan rela. Rabb kami dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”  (HR. At-Tirmidzi no. 3451, Ad-Daarimi no. 1730, dan Ibnu Hibban dalam Mawaridudh-Dham’an hal. 589. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/423).

Menetapkan Niat Puasa

Wajib menetapkan niat untuk puasa fardlu (Ramadlan) pada malam harinya, yaitu sebelum terbit fajar shadiq. Yang demikian itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Abu Dawud no. 2454, Ibnu Khuzaimah no. 1933, Al-Baihaqi 4/202, An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2333, dan At-Tirmidzi no. 730. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud 3/82).

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له

“Barangsiapa tidak berniat atas puasanya di malam hari, maka tidak sah puasa baginya” (HR. Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 2331; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil no. 914).

Niat itu tempatnya di dalam hati, karena niat maknanya adalah tujuan (al-qashdu) sebagaimana penjelasan An-Nawawi.  Melafadhkan niat dalam ibadah puasa Ramadlan tidak ada contohnya dan bukan merupakan bagian dari sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.  Para imam seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan para imam kaum muslimin lainnya tidak pernah melakukannya, apalagi mengajarkannya.

Kewajiban niat di malam hari/sebelum fajar hanya berlaku pada puasa wajib.  Adapun untuk puasa sunnah, niat boleh dilakukan pada siang harinya.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi ‘Aisyah di luar bulan Ramadlan seraya bertanya :

هل عندكم شيء فقلنا لا قال فإني إذن صائم

“Apakah kamu punya persediaan makanan? Aisyah menjawab : Tidak ada.  Maka beliau berkata : “Maka aku akan berpuasa” (HR. Muslim no. 1154).

Waktu Berpuasa

Waktu untuk berpuasa adalah dimulai dari terbitnya fajar shadiq (fajar kedua) sampai terbenamnya matahari.[6] Sebagai permulaan waktu puasa, Allah ta’ala telah berfirman :

وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتّىَ يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah : 187).

Dan untuk berakhirnya waktu puasa, yaitu tiba waktu berbuka puasa, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

إذا أقبل الليل من ها هنا وأدبر النهار من ها هنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم

“Apabila malam telah tiba dari arah sini dan siang telah berlalu dari arah sini serta matahari pun terbenam, maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka”
(HR. Al-Bukhari no. 1954 dan Muslim 1100; ini adalah lafadh Al-Bukhari).

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon